Iggoy el Fitra

Saatnya katakan cinta: Laillahaillallah.....!!!!

Wednesday, June 29, 2005

Jam Gadang


Bukit Tinggi euy.

Jalan-jalan dengan keluarga besar.

walau dingin-dingin empuk lho..

love for you all.

damai dalam hati, damai dalam celana dan kaus kaki

Iggoy dalam Lirih


Peace, man!!!

i'm is musician, poetman, painter, writer, lover.

Hepi Beliday tu mi, 03 July 1981



Iggoy kecil, tak pernah merasa ingin besar, tapi kenapa sekarang besar??

Imut nggak gue?? he, he, he, pasti dong, kan idaman emak-emak...

dan idola gadis-gadis zaman baheula, yang pastinya sekarang sudah nenek-

nenek... Mmuachhh....

My Guitar


Iggoy seorang gitaris terbengkalai.
Sampai sekarang belum menemukan mata, kaki, telinga dan tubuh yang diidamkan.




RANJANG ISTANAKU... BASERAX---->

Tuesday, June 28, 2005

Puisi

KETIKA SENANDUNG ADZAN TIDAK LAGI FASIH
Syahdan,Ketika senandung adzan tidak lagi fasih.
Meruang di gendang telinga kanan.
Engkau terbang ke langit mencomot rindu.
Menggantungkan wanginya di otak pengap.
Adapun dalam selaksa biru kelat.
Ulang tahun hati dipercepat.
Membuyar tanpa menyapa kiblat.
Persetan dengan asap yang menjerumuskan napas.
Atau saku bolong menebar jenuh.
Aku bukan sembilu
Tetap setangkai buluh terbengkalai.
Jadi mainan bagi kucing-kucing pengencing
.Di surau tempat emak tua bergolek
Menunggu dicabuti uban keroposnya
Menanti dicabuti ajal satu-satunya
Benarkah jiwa itu bongak?
Koyak sampai meruyak?
Kadang meliuk sambil meratap-ratap
Selalu, selalu, dan selalu merayu
Merajuk bila aku menyusut
Sekecil jerawat batumu
Manangkup tangis dengan payung rombengku
Tapi tak kuasa
Malah jadi korban Tsunami kesekian juta
Apa yang pernah kuindahkan di masa lampau?
Menyulam kerudung pengantin?
Menyulap air mata jadi intan?
Mungkin lebih baheula lagi
Kala kuletuskan balon hati merah jambu?
Byarrr!! Oh, I’m flying
Sayap membentang sampai ke Afrika yang kering
Serupa atmosfer kian cabik
Engkau was-was jumpalitan di atasnya
Omong kosong, katamu
Sekedar menelanjangi janji
Hantarkan jantung yang masih berdenyut
Kuletakkan di samping diktatmu
Berlinang peluh, bacin, gemeretap
Untuk kau tusuk-tusuki
Setiap kali mengingkari
Aku hanyalah umat
Perlu kata agar banyak-banyak tobat
Bukannya pameo nyinyir yang tak berpihak
Biarkan aku jadi cahaya loak
Dari ludah kelemayar menjijikkan
Menjilatmu dari ubun sampai ujung kaki
Ciptakan saja mazhab baru tentang kita!
Agar tidak terlalu sangit
Cuma meletup sayup tidak membara
Berkobar menerkam siapa saja
Hingga tak perlu kenduri Betari Durga
Huh, rindu itu sangar, bukan?
Apalagi dijamah tanpa selop
Menyekatkan paralon nyawa yang kelam
Tinggal siap-siap mengoreksi tahlil
Dikumpulkan ke meja pak Malai
Dahulu di lapik lawas kuajarkan bernyanyi
Juga menari dengan chord yang tak pasti
Lalu keliling negri naik Lamborghini
Bocah sontoloyo pun jadi Srikandi
Melayang berkelebat, whussshh…
Aku ditinggal merangkak hitung langkah kura-kura
Toh kau kembali menyeretku yang tak bisa cepat
Percuma jika kau yang ligat
Sungguh, betapa mengeranyamnya janji itu
Kecupan kejut selepas maghrib
Lumerkan mimpi diliur pagi
Mengupas tomat menjadi tulip
Lagukan apatis bersama murai yang mengaji
Waktu itu segala menguning pekat
Layaknya jigong berbulan-bulan tak tersikat
Kau meringkuk sembunyi dalam padi merukuk
Yang ikut serta kuning kayak sirup jeruk
Tolong, katamu memelas
Aku pun kritis setelah berjibaku
Menyelamatkan kemilau
Yang ternyata menelanku juga
Akibatnya, mata ini jemu
Tangan dan kaki telah bosan
Mulut kapok ucapkan iya
Seringai pula yang tak kunjung teduh
Mengarat lebam tak mau pergi
Menggerogoti jasad tinggal kerangka
Tanpa sisa berubah jadi jurik
Dosa bersemi tak diterima karena fasik
Na’udzubillah minzalikEngkau tercekik
Lantas apa lagi yang diinginkan rindu?
Selain falsafah usang bergaransi itu?
Sekarang aku adalah giwang dari air mata
Bergelayut tunggal di telinga kananmu
Selalu tersemat atau tercampak
Terserah pada hati
Yang menggantungkan wanginya di otak pengap
Sampai pada malam masygul
Ketika senandung adzan makin tidak fasih

Padang, 27 Juni 2005‘untuk kekasih’

Dunia kuli kata